Sabtu, 04 Juni 2011

Wortel, Telur, atau Biji Kopi?

Tulisan ini diambil dari majalah Alia no.09 edisi bulan Maret 2010 
yang ditulis oleh Adzakia Muthmainnah.

*****
Seorang gadis muda mengeluh kepada ayahnya tentang hidupnya yang dirasanya sulit.  Dia merasa seolah masalah demi masalah mengepungnya. Ayahnya yang seorang koki lalu membawa anak gadis itu ke dapur. Dia mengisi tiga panci dengan air dan menjerang semuanya di atas api. Di panci pertama ia masukkan wortel, di panci kedua ia masukkan telur, dan di panci terakhir ia masukkan biji kopi. Semua dilakukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
 Si gadis mulai kehilangan kesabaran ketika dua puluh menit kemudian dilihatnya si Ayah mulai mengangkat wortel dan telur dari panci-panci itu dan meletakkannya di mangkuk. Dari panci berisi biji kopi, ia mengambil seciduk air.
"Apa yang kau lihat Nak?" tanya si Ayah.
"Wortel, telur, dan kopi," jawab si gadis.
Sang Ayah memintanya menggigit wortel tadi. Si gadis menurut dan mengatakan bahwa wortel tadi terasa lembut. Kemudian si Ayah memintanya mengupas telur dan juga memamahnya. Kembali si Gadis menurut. Terakhir, ayahnya memintanya mencicipi air kopi hangat.
 "Apa sih maksud Ayah?"
"Ketiga benda tadi - wortel, telur, dan biji kopi - baru saja melewati 'ujian' yang sama. Air mendidih. Perhatikan 'reaksi' masing-masing. Pada awalnya wortel terasa kuat, keras dan sulit dibentuk, tapi begitu terkena air mendidih dia melunak dan rapuh. Telur sebelumnya mudah pecah. Kulit luarnya yang tipis melindungi isinya yang berupa cairan. Tapi setelah melalui air yang mendidih, isinya menjadi keras. Biji kopi 'lain dari yang lain'. Begitu dimasukkan ke dalam air mendidih, dia mengubah air dan menjadikannya minuman yang bisa dinikmati orang lain. Coba beri tahu Ayah, termasuk yang manakah dirimu Nak? Wortel, telur atau biji kopi?"

*****

Semoga bermanfaat.....

Kamis, 02 Juni 2011

Seikat Cinta Buatmu...

Berjuta tembang mengalun mengitari isi pikiranku. Namun tak satupun yang membuatku merasa terhibur. Mungkin terlalu penuh... teramat penuh dengan berjuta kekecewaan yang membuatku merasa menjadi seperti orang terbodoh di bumi ini.

Penyesalan sebenarnya tak perlu ada, jika dari mula aku menyadari akan hasil yang akan aku terima. Padahal butuh berjuta keberanian untuk bisa mengatakannya pada Dini, gadis yang mampu membuat rasa kecewa ini semakin parah. Padahal juga butuh berjuta kali pertimbangan sampai pada akhirnya aku memutuskan... iya, aku akan katakan semuanya.

Sekarang setelah semua terjadi, tinggal aku menahan perih sendiri. Terluka... memang, tapi 'ntah kenapa rasanya begitu menusuk sekali. Mungkin karena aku telah kehilangan banyak hal sebagai akibat dari keputusanku itu. Dini bukanlah pacarku, itu pasti. Tapi aku juga kehilangan Dini sebagai sahabat. Sejak kejadian itu, Dini mulai mengambil jarak denganku. Dini tak lagi ramah. Aku bagaikan orang asing buatnya. Mungkin inilah yang membuatku  amat sangat kecewa.

Seandainya saja Dini masih mau bersahabat denganku, mungkin rasaku tak akan pernah seperti ini. Teramat kecewa. Kenapa sih? Apa salah aku mengatakan isi hatiku? Aku kira waktunya tepat kok, Dini belum punya pacar saat ini. Kalau memang aku bukan lelaki yang dia cari, bisa kan dia cerita padaku, seperti biasanya Dini selalu bercerita tentang banyak hal padaku. Tapi kenapa sekarang ini lain???

Aaahhhhh..... sudah lah... semua sudah terjadi. Aku harus bisa melewati semua ini. Yang penting Dini tahu kalau aku punya seikat cinta buatnya yang akan aku simpan di sudut hati 'ntah sampai kapan.

*****


Sekedar fiksi yaa....
Mohon maaf kalo ada kesamaan nama dan cerita...
Tapi... ini kado buatmu yang sudah 'ngasih inspirasi ke aku...
(gresik 02062011)