Tulisan ini diambil dari majalah Alia no.09 edisi bulan Maret 2010
yang ditulis oleh Adzakia Muthmainnah.
*****
Seorang gadis muda mengeluh kepada ayahnya tentang hidupnya yang dirasanya sulit. Dia merasa seolah masalah demi masalah mengepungnya. Ayahnya yang seorang koki lalu membawa anak gadis itu ke dapur. Dia mengisi tiga panci dengan air dan menjerang semuanya di atas api. Di panci pertama ia masukkan wortel, di panci kedua ia masukkan telur, dan di panci terakhir ia masukkan biji kopi. Semua dilakukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Si gadis mulai kehilangan kesabaran ketika dua puluh menit kemudian dilihatnya si Ayah mulai mengangkat wortel dan telur dari panci-panci itu dan meletakkannya di mangkuk. Dari panci berisi biji kopi, ia mengambil seciduk air.
"Apa yang kau lihat Nak?" tanya si Ayah.
"Wortel, telur, dan kopi," jawab si gadis.
Sang Ayah memintanya menggigit wortel tadi. Si gadis menurut dan mengatakan bahwa wortel tadi terasa lembut. Kemudian si Ayah memintanya mengupas telur dan juga memamahnya. Kembali si Gadis menurut. Terakhir, ayahnya memintanya mencicipi air kopi hangat.
"Apa sih maksud Ayah?"
"Ketiga benda tadi - wortel, telur, dan biji kopi - baru saja melewati 'ujian' yang sama. Air mendidih. Perhatikan 'reaksi' masing-masing. Pada awalnya wortel terasa kuat, keras dan sulit dibentuk, tapi begitu terkena air mendidih dia melunak dan rapuh. Telur sebelumnya mudah pecah. Kulit luarnya yang tipis melindungi isinya yang berupa cairan. Tapi setelah melalui air yang mendidih, isinya menjadi keras. Biji kopi 'lain dari yang lain'. Begitu dimasukkan ke dalam air mendidih, dia mengubah air dan menjadikannya minuman yang bisa dinikmati orang lain. Coba beri tahu Ayah, termasuk yang manakah dirimu Nak? Wortel, telur atau biji kopi?"
*****
Semoga bermanfaat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar